WARISAN ARUNG PALAKKA: Sejarah Sulawesi Selatan abad XVII
Nama : ISRAIL. T
Dosen Pengampu : A. Lili Evita, S.S., M.Hum
Penerjemah: Nurhady Sirimorok
Editor: M Aan Manyur
Penerbit: Ininnawa
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 1981
Penguasa dan Penyatu di Abad ke-17
Buku The Heritage of Arung Palakka: Warisan arung palakka sejarah Sulawesi Selatan abad ke 17 Leonard Y. Andaya ; diterjemahkan oleh, Nurhady Sirimorok ; editor, M. Aan Mansyur dengan judul asli: A History of South Sulawesi (Celebes) in the Seventeenth Century karya Leonard Y. Andaya memberikan gambaran yang mendalam tentang warisan dan pengaruh Arung Palakka, sosok yang sangat signifikan dalam sejarah Sulawesi Selatan pada abad ke-17.
Buku ini menceritakan tentang Arung Palakka yang merupakan tokoh sentral dalam sejarah Sulawesi Selatan, terkenal karena perannya dalam menyatukan kerajaan-kerajaan yang sebelumnya terpecah, seperti Bone, Gowa, dan Soppeng. Melalui kepemimpinannya, ia tidak hanya berhasil mempersatukan kekuatan politik, tetapi juga menciptakan identitas kolektif bagi masyarakat Bugis dan Makassar. Strateginya dalam membangun aliansi dengan bangas barat, termasuk dengan VOC, menjadi langkah penting untuk mengalahkan Kesultanan Gowa,
Dalam Buku juga menceritakan bahwa betapa pentingnya konsep siri'. Satu ciri kultural khusus yang memegang peranan sangat penting dalam sejarah Sulawesi Selatan di paruh akhir abad ke-17 yaitu dalam bahasa Bugis atau pace dalam bahasa Makassar. Siri adalah konsep yang mencakup gagasan tentang harga diri dan rasa malu namun terdapat dua cara yang berbeda ketika orang merujuk ke istilah siri yaitu di satu sisi digunakan orang untuk menandakan seseorang telah dibuat Siri atau dipermalukan ketentuan masyarakat tentang balasan yang setimpal terhadap seseorang yang dibuat, Siri memaksa orang seperti Arung Palakka untuk mengambil tindakan-tindakan yang bagi orang luar terlihat seperti perbuatan yang tidak masuk akal konyol dan bahkan bunuh diri. Dalam kepemimpinan Arung Palakka sangat signifikan, karena ia memperkuat nilai-nilai harga diri dan kehormatan dalam masyarakat Bugis. Konsep ini mendorong masyarakat untuk menjaga martabat dan memulihkan kehormatan yang dirasa ternoda, yang menjadi dasar stabilitas sosial dan politik.
Warisan Arung Palakka tercermin dalam dinamika politik yang terjadi setelah kematiannya. Surat wasiatnya menegaskan bahwa VOC berhak mengelola urusan keluarganya yang menunjukkan hubungan rumit antara kekuasaan lokal dan pengaruh kolonial. Meskipun kontribusinya dalam penyatuan wilayah sangat dihargai, kerjasamanya dengan VOC juga dianggap sebagai pengkhianatan oleh sebagian masyarakat. Warisan ini menciptakan perdebatan berkelanjutan mengenai identitas dan nasionalisme di Sulawesi Selatan.

Comments
Post a Comment