WARISAN ARUNG PALAKKA : Sejarah Sulawesi Selatan Abad ke-17 (Oleh : Leonard Y. Andaya)
ARUNG PALAKKA PAHLAWAN ATAU PENGHIANAT
Buku Warisan Arung
Palakka yang ditulis oleh Leonard Andaya diterbitkan oleh makassar ininnawa
pada tahun 2006. Buku ini merupakan salah satu terjemahan tentang literatur
sejarah Sulsel Dengan judul asli “The heritage of arung palakka : a history of
south Sulawesi (cilibes) in the seventeenth century”.
Dalam buku tentu saja menceritakan tentang bagaimana
peran arung palakka dalam sejarah Sulawesi Selatan, terutama selama periode
konflik dengan Gowa dan interaksinya dengan VOC.
Arung Palakka adalah Sultan Bone yang menjabat pada
1672 hingga 1696. Ia merupakan seorang
putra dari Raja Bone XIII. Meskipun di seorang putra raja bukan berarti ia bisa
menikmati hidup dengan enak. Justru pada masa itu ia dihadapkan dengan kondisi dimana
sedang terjadi konflik antar-kerajaan di Sulawesi Selatan.
Pada masa itu Kerajaan gowa berusaha untuk memperluas
wilayah kekuasaannya dengan menaklukkan kerajaan kerajaan tetangga termasuk
Bone. Namun kerajaan bone kerap kali mendapatkan ketidakpuasaan dan rasa
tertekan atas kebijakan yang diberikan oleh Kerajaan gowa. Bone merasa tertekan
oleh kebijakan Gowa yang mengutamakan kepentingan mereka sendiri, sehingga
mengabaikan hak dan kebutuhan masyarakat Bone. Hal ini menciptakan rasa
ketidakpuasan yang mendalam di kalangan rakyat Bone.
Karena rasa ketidakpuasaan dan tertekan yang dialami Masyarakat
Bone, Arung Palakka, sebagai pemimpin Bone, berjuang untuk membebaskan
rakyatnya dari penindasan Gowa. Ia melihat bahwa untuk mencapai kemandirian
dan kebebasan, Bone harus berpisah dari pengaruh Gowa. Dalam konteks ini, Arung
Palakka bersekutu dengan Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC) untuk
melawan Gowa, yang merupakan langkah strategis untuk mendapatkan dukungan
militer dan politik dalam perjuangan mereka.
Alasan Arung Palakka bekerja sama dengan VOC pada masa
itu karena saat itu VOC sangat ingin menguasai kerjaan gowa terutama dalam hal
perdagangan. Saat itu kerjaan gowa sangat sulit ditaklukkan oleh VOC, oleh
karena itu, Arung Palakka memutuskan untuk bekerja sama dengan VOC dan
membantunya untuk menaklukkan Kerajaan Gowa. Keuntungan yang didapatkan oleh
arung palakka dari kerja samanya dengan VOC salah satunya adalah terbebasnya Kerajaan
bone dari Kerajaan gowa. Hal ini membuat Arung Palakka dianggap sebagai penghianat.
Arung Palakka, yang
dikenal sebagai pahlawan bagi sebagian masyarakat Bone, meninggalkan warisan
yang signifikan dalam sejarah Sulawesi Selatan. Buku ini menggambarkan
bagaimana Arung Palakka, yang beraliansi dengan Perusahaan Hindia Timur
Belanda (VOC), berkontribusi pada perubahan politik dan sosial di wilayah
tersebut. Meskipun ia dianggap sebagai pengkhianat oleh sebagian orang, bagi
masyarakat Bone, ia tetap dihormati sebagai pahlawan yang berjuang untuk
kepentingan daerahnya.
Warisan Arung Palakka
sangatlah kompleks. Di satu sisi, ia dianggap pahlawan oleh masyarakat Bone
karena membela kepentingan wilayah. Di sisi lain, kerja samanya dengan VOC
menjadikannya sosok kontroversial dalam sejarah. Leonard Andaya menekankan
bahwa untuk memahami Arung Palakka perlu melihat dari berbagai sudut pandang,
termasuk bagaimana narasi sejarah dipengaruhi oleh berbagai sudut pandang.
Secara keseluruhan, buku
ini memberikan wawasan yang berharga tentang bagaimana Arung Palakka
berkontribusi pada perubahan politik dan sosial di wilayah tersebut, serta
bagaimana warisannya terus diperdebatkan hingga saat ini. Buku ini juga sangat
direkomendasikan karena Buku ini bagus sebagai referensi sejarah perjuangan yang
dilakukan oleh Arung Palakka.
Anisa Karimah
Comments
Post a Comment