WARISAN ARUNG PALAKKA : Kisah Hidup Sang Pahlawan Bugis
Nama:Faisal
Nim:A041241004
Prodi : Ekonomi dan Bisnis Islam
"Arung Palakka: Kisah Hidup
Sang Pahlawan Bugis"
Abad ke-17 merupakan periode yang luar biasa dalam sejarah Sulawesi Selatan. Tidak ada tempat yang lebih baik untuk menggambarkan perubahan yang terjadi secara menyeluruh selain dari kecepatan banyaknya penguasa lokal dan rakyatnya yang memeluk Islam. Keberhasilan Islam dalam dua dekade awal abad itu terutama disebabkan oleh penguasa Muslim pertama kerajaan Goa yang meyakini bahwa menyebarkan agama baru ini ke negara-negara tetangganya adalah kewajiban agamanya, jika perlu dengan penaklukan. Setelah menaklukkan lawan terkuatnya, kerajaan Bone, Goa kemudian menjadi kekuatan terdepan di Sulawesi Selatan. Untuk pertama kalinya dalam sejarah yang tercatat, ada satu negara yang dapat mengklaim kekuasaan di seluruh semenanjung. Akan tetapi, Goa tidak pernah menaklukkan Luwu, kerajaan yang pernah mendominasi wilayah tersebut, yang merupakan negara pertama yang memeluk Islam, dan yang pertama mendukung tujuan Goa untuk menyebarkan agama ini ke negeri-negeri lain.
Setelah Goa berhasil menguasai sebagian besar Sulawesi Selatan, para penguasanya mengirim pasukan ke luar negeri sejauh Lombok di sebelah barat dan sejauh Kepulauan Aru-Kei di sebelah timur. Pada pertengahan abad ke-17, Goa telah menjadi salah satu kerajaan terkuat dan terluas dalam sejarah kepulauan tersebut. Begitu legendarisnya kekuatan dan kekayaan Goa sehingga orang-orang Indonesia Timur hampir tidak percaya dengan keberanian Perusahaan Hindia Timur Belanda dalam menantang kekuasaannya. Namun, aliansi yang tak terduga antara Perusahaan dan musuh-musuh Bugis di Goa-lah yang mengakhiri masa kejayaan Goa secara tiba-tiba dan penuh kekerasan. Pada tahun 1669, Sombaopu, benteng kerajaan Goa yang dijaga ketat dan simbol kebesarannya, jatuh ke tangan musuh. Bahkan sebelum penjarahan berhenti, berita tentang kemenangan ini menyebar dengan cepat ke seluruh kerajaan tetangga, mengumumkan munculnya bintang baru, Arung Palakka, yang ditakdirkan untuk mewarisi kerajaan Goa. Selama sisa abad ke-17, bangsa Bugis dari Bone dan Soppeng yang berjaya mendominasi urusan di Sulawesi.
Peristiwa-peristiwa di Sulawesi Selatan pada abad ke-17 hanya dapat diapresiasi dengan baik melalui pemahaman tentang ciri-ciri budaya tertentu yang menentukan sifat kendali politik. Salah satu ciri yang paling mendasar dari ciri-ciri ini adalah keberadaan empat kelompok etnis (suku) utama di Sulawesi Selatan: suku Bugis, Makassar, Toraja, dan Mandar. Kelompok terbesar adalah suku Bugis yang menempati hampir seluruh bagian timur dan bagian barat semenanjung barat daya Sulawesi. Suku Makassar adalah suku terbesar kedua dalam populasi dan ditemukan di wilayah barat dan selatan semenanjung.Karena suku Bugis dan Makassar sejak awal menempati lahan pertanian paling subur di semenanjung dan memiliki akses ke beberapa lokasi pelabuhan yang paling menguntungkan, mereka menjadi suku yang dominan secara jumlah dan politik.
Goa dalam perang dan terbukti menjadi aset besar dalam pertempuran. Goa mampu menghindari pembalasan keras Arung Palakka setelah perang karena kemampuannya untuk menggunakan daerah pegunungan yang tidak ramah di pedalaman sebagai tempat berlindung dari pasukan penyerang. Suku Toraja tidak memainkan peran aktif dalam perang, kecuali beberapa orang yang mungkin menjadi bagian dari pasukan Datu Luwu.
Dalam hal-hal penting lainnya, Arung Palakka telah meninggalkan warisannya bagi Sulawesi Selatan. Melalui kekuasaannya yang panjang, ia mampu mengatasi kekuatan sentrifugal yang melekat pada unit-unit politik tradisional. Di masa lalu, kekuatan adat Tomanurung dan gaukěng yang bersifat individual telah
menjaga keunikan dan independensi politik suatu negara sejumlah negara kecil di Sulawesi Selatan.
Sementara mereka terus mempertahankan entitas mereka yang terpisah, sebagaimana dibuktikan oleh upacara perjanjian yang rumit yang menegaskan kembali hak-hak dasar mereka untuk memilih penguasa, adat istiadat, dan proses hukum, mereka tidak lagi kebal terhadap pelanggaran hak istimewa ini oleh Arung Palakka. Dia telah mengembangkan hubungan kepercayaan dan dukungan khusus dengan Perusahaan Hindia Timur Belanda yang kuat yang pada waktunya diterjemahkan menjadi pembagian kekuasaan implisit di Sulawesi Selatan. Dengan demikian, Arung Palakka dapat menggunakan pengaruhnya secara efektif di antara negara-negara setempat karena mereka percaya bahwa Perusahaan pada akhirnya akan mendukung Arung Palakka jika dia ditantang oleh individu atau negara mana pun.
Dalam kurun waktu tiga puluh tahun Arung Palakka telah menyatukan negara-negara bagian Sulawesi Selatan, membentuk satu keluarga kerajaan yang memiliki hubungan darah dengan penggantinya, La Patau, dan menciptakan kondisi yang menyebabkan banyak pangeran Sulawesi Selatan dan pengikutnya terpaksa mencari rumah di luar negeri yang berdampak panjang bagi sejarah daerah tersebut. Inilah warisan yang diwariskan Arung Palakka tidak hanya kepada Sulawesi Selatan tetapi juga kepada seluruh kepulauan Melayu-Indonesia.
Comments
Post a Comment