Ulasan Buku “Warisan Arung Palakka” Karya Leonard Y. Andaya_Andi Nur Asifathul Fajriah

 

Negara dan Masyarakat di Sulawesi Selatan pada Abad ke-17

“Warisan Arung Palakka” Karya Leonard Y. Andaya

 

     Warisan Arung Palakka Sejarah Sulawesi Selatan Abad ke-17 adalah karya sejarawan terkenal Leonard Y. Andaya yang menawarkan pandangan mendalam tentang sejarah Sulawesi Selatan, khususnya mengenai peran penting Arung Palakka dalam sejarah politik dan sosial di kawasan tersebut. Buku ini adalah hasil penelitian akademis yang komperensif, berfokus pada abad ke-17, masa di mana Arung Palakka menjadi figur sentral dalam sejarah Bugis-Makassar dan hubungan mereka dengan kekuatan kolonial, seperti Belanda.

Andaya menggali lebih dalam motivasi politik, sosial dan pribadi Arung Palakka, yang sering dianggap sebagai pahlawan oleh orang Bugis tetapi juga dianggap sebagai pengkhianat oleh beberapa kelompok, terutama masyarakat Makassar.

     Penelitian ini mencoba menjelaskan ciri-ciri politik dan budaya tertentu dalam masyarakat Sulawesi Selatan dan situasi historis tertentu yang membantu menjelaskan peristiwa-peristiwa utama pada periode ini. Puncak dari persaingan antara Gowa dan Bone, serta meningkatnya ketegangan antara VOC dan Gowa yang berujung pada Perang Makassar. Dalam Bab III, perang ini dijelaskan secara rinci dengan alasan tertentu. Bahkan pada masa kita sekarang, perang ini terus membangkitkan respon emosional di kalangan masyarakat Sulawesi Selatan dan akibatnya melahirkan sejumlah mitos dan kesalahpahaman. Hanya dengan mencoba untuk mendefinisikan apa yang sebenarnya terjadi dalam perang tersebut, banyak dari mitos-mitos tersebut dapat diluruskan. Selain itu, perang ini menggaris bawahi ciri- ciri tertentu yang terbukti penting pada tahun-tahun berikutnya, seperti keberanian Arung Palakka yang nekat yang menjadi ciri khas gaya bertarungnya dan membuatnya menjadi legenda pada masanya; perpecahan serius antara faksi-faksi perdamaian dan faksi-faksi perang di dalam istana-istana Gowa-Tallo yang kemudian menyebabkan pembelotan beberapa pemimpin terkemuka kerajaan-kerajaan ini; dan persekutuan kompleks antara kerajaan-kerajaan Bugis dan Makassar di kedua belah pihak, yang kemudian mempercayai gambaran sederhana mengenai perang yang terjadi antara orang Bugis dan Belanda di satu pihak, dan orang Makassar di pihak lain. 

Pada bulan November 1667, Perjanjian Bungaya ditandatangani oleh pihak-pihak yang berperang dalam upaya dini untuk mengakhiri perang. Perjanjian ini dan makna serta signifikansinya bagi pihak-pihak yang terlibat. Mengapa dan bagaimana di tahun-tahun berikutnya perjanjian tersebut dilihat sebagai pembenaran atas tindakan- tindakan yang tampaknya provokatif baik oleh Kompeni maupun oleh para penguasa Sulawesi Selatan. Pembahasan ini juga semakin menegaskan perhatian besar yang diberikan oleh masyarakat ini untuk menghormati hak-hak yang tidak dapat diganggu gugat dari semua negara, sekecil apapun itu. 

Arung Palakka dan Perusahaan mengkonsolidasikan kekuasaan mereka dan mengatur pembagian kekuasaan yang dapat diterima bersama, dengan Arung Palakka sebagai mitra dominan dalam urusan internal dan Perusahaan sebagai mitra dominan dalam urusan eksternal Sulawesi Selatan. Begitu suksesnya pengaturan ini sehingga jalur-jalur protes tradisional di dalam masyarakat menjadi tidak efektif dan berkontribusi pada arus keluar besar-besaran dari Sulawesi Selatan. Karena jumlah mereka yang besar dan reputasi mereka sebagai pejuang, para pengungsi ini menjadi ancaman nyata, tidak hanya bagi kerajaan-kerajaan yang rentan di Nusantara, tetapi juga bagi stabilitas Sulawesi Selatan sendiri. Kekalahan mereka di Jawa pada tahun 1679 mengakhiri tantangan terakhir dari musuh-musuh ini terhadap kekuasaan bersama yang didirikan oleh Arung Palakka dan Kompeni.

Meskipun hubungan ini secara umum tampak baik dan berkembang, ada beberapa periode ketegangan antara Arung Palakka dan berbagai gubernur dan presiden Belanda yang bermarkas di Benteng Rotterdam. Arung Palakka menjadi mangsa keraguan tentang statusnya dengan Kompeni dan oleh karena itu mencurigai penguasa lokal lainnya yang tampaknya memihak kepadanya. Kecurigaan ini berujung pada peristiwa tragis yang diceritakan dalam Bab IX: pembunuhan atas perintah Arung Palakka terhadap salah satu pendukungnya yang paling setia, Arung Bakkë Todani. Namun Arung Palakka bersedia mengambil langkah drastis seperti itu, tidak hanya untuk melindungi posisinya, tetapi juga untuk memastikan bahwa para pewarisnya tidak akan mendapat perlawanan dalam mewujudkan banyak impian Arung Palakka. Tidak ada penguasa Sulawesi Selatan yang pernah lagi menantang otoritas Arung Palakka. Arung Palakka kemudian menjalankan kontrol yang hampir sepenuhnya terhadap semua negara bagian di Sulawesi Selatan. Ia tidak segan-segan menggunakan bujukan, intimidasi, dan pada akhirnya, kekerasan untuk mencapai keinginannya. Puncak dari upayanya adalah tampilan persatuan dan rasa hormat yang luar biasa yang ditunjukkan kepadanya oleh tentara Sulawesi Selatan yang berkumpul pada tahun 1695, kurang dari setahun sebelum kematiannya.

Kisah upaya monumental Arung Palakka untuk menciptakan Sulawesi Selatan yang bersatu yang diperintah oleh keluarganya. Kesatuan politik yang longgar di seluruh Sulawesi Selatan yang tunduk pada satu penguasa telah tercapai pada saat kematiannya di tahun 1696. Penggantinya, La Patau, terus memerintah tanpa tantangan sebagai penguasa tertinggi, berkat kejelian dan kehati-hatian yang dilakukan oleh Arung Palakka dalam menetapkan dengan kuat preseden kekuasaan dan otoritas yang terkait dengan posisi ini. Meskipun tidak ada satupun dari anak-anak La Patau yang kemudian memiliki pengaruh yang begitu luas, mereka dan keturunannya kemudian memerintah semua kerajaan besar di Sulawesi Selatan hingga abad ke 20. Sebuah kesatuan politik mungkin tidak dapat dicapai oleh para penerus Arung Palakka, tetapi sebuah preseden persatuan telah dibangun dan diperkuat oleh hubungan darah yang erat di antara keluarga-keluarga besar kerajaan. Dari sekian banyak hal yang dicapai oleh Arung Palakka dalam masa hidupnya yang panjang dan penuh peristiwa, mungkin inilah pencapaian terbesarnya. Ini adalah warisan yang layak untuk orang tersebut.

Rangkuman

“Warisan Arung Palakka" karya Leonard Y. Andaya adalah buku yang sangat penting bagi siapa pun yang ingin memahami sejarah Sulawesi Selatan dan tokoh Arung Palakka. Buku ini memberikan perspektif baru dan analisis mendalam tentang hubungan politik, sosial, dan ekonomi yang membentuk wilayah tersebut pada abad ke-17. Dengan pendekatan sejarah yang teliti, Andaya tidak hanya menggambarkan peran Arung Palakka sebagai tokoh sejarah, tetapi juga membuka diskusi tentang implikasi jangka panjang dari aliansinya dengan Belanda dan dampaknya pada sejarah kolonial di Indonesia.




Comments

Popular posts from this blog

WARISAN ARUNG PALAKKA : Sejarah Sulawesi Selatan Abad ke-17 (Oleh : Leonard Y. Andaya)

WARISAN ARUNG PALAKKA : Kisah Hidup Sang Pahlawan Bugis